ihsan

 

 

IHSAN

 

Ihsan (Arab:      ناسضا;      “kesempurnaan”      atau      “terbaik”)      adalah      seseorang      yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-

Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

Ihsan adalah lawan dari isa’ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba – hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

 

لمكأ ىلع صتصيل هحداجإل دىجلا لذةو ملسملا هة ميلي يذلا لمػلا نالحإ : مالسإلا يف ناسضإلا

نإ

هَّ ف  هارح نكح مل نإف هارح كنغع للا دتػح نأ : ناسضإلا ملسو هيلع للا ىلص ليسرَّلا لاكو،هسو

)هسام نةاو ملسم هاور( كاري

Ihsan dalam Islam adalah kerja profesional yang dilakukan oleh seorang muslim, mengerahkan semua kemampuannya agar hasilnya baik, sehingga sampai pada kesempurnaan, dan Rasulullah saw bersabda, Ihsan   adalah : Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Allah, jika engkau tidak melihatnya, maka Allah melihatmu (HR Muslim dan Ibnu Majah)

 

Tingkatan Ihsan

  1. 1. للا ثتكارم (Merasa diawasi Allah )

Perhatikan QS (57) Al-Hadid ayat : 4

خس

امو ضرالا ىف زلي ام ملػي شرػلا ىلع ىيخسا مَّذ مايَّا ث

يف ضرالاو تيمسَّلا قلخ يذلا يو

٤  دح ص ة  ني لم ػ ح     ام ة   للاو  م خج ك  ام ني ا م كػ م  ي و و اىيف جرػي امو ءامسَّلا نم لذجي امو اىنم جرخي

 

Terjemah Kemenag 2002

  1. 4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam  masa; kemudian Dia bersemayam di atas

„Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang

turun dari langit dan apa yang naik ke sana.  Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan

Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

 

Menurut Ibnu Katsiir Dalam Tafsirnya:

نغ

Alloh selalu bersamamu di manapun kamu berada , di darat, di laut atau udara, di waktu malam maupun siang dan tetap melihat serta mengawasi segala perbuatanmu. Ketika Rosulululloh Shollollohu alaihi Wasallam ditanya Jibril tentang Ak-Ihsan, maka di jawab Oleh Nabi :

Yang maknanya :

نإ                                  َّع للا دتػح نأ

Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Allah, jika engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah Allah tetap melihatmu

Ubadah bin As Shomit Rodhiyalloohu Anhu Berkata bahwa Rosululloh SAW bersabda:

 

ججك امرحض كػم للا نا ملػح نا نامي الا لضفا نا

Sesungguhnya seutama-utama iman, jika Anda mengetahui bahwa Alloh selalu bersamamu di mana saja anda berada ( Hr Abu Nu‟aim)1

 

Muraqabah Menurut Imam Al Haddad2

Muraqabah  (berhati-hati)  ialah  merasakan  betapa  Alloh  Subhaanahu  wata’alaa  amat  dekat kepada seorang hamba di sepanjang masa dan bahwa Alloh Subhaanahu wata’alaa senantiasa bersamanya, meliputinya, menelitinya dan melihatnya.

[ QS : 33 : 52 ]

ََََّّّّدت

جكلم ام الا نىنسض كتشغا يلو جاوزا نم نىة ل  ح   نا الو دػة نم ءاسجلا كل لحي ال

كنحمي

٥  ا تح ك رَّ ءيش  ل ع ىل ع  لل ا نغعو

 

  1. 52. Tidak halal bagimu (Muhammad) menikahi perempuan-perempuan (lain) setelah itu, dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba  sahaya)  yang  engkau  milik  Dan  Allah  Maha  Mengawasi  segala sesuatu.

[ QS : 20 : 46 ]

نا

٤٦ ىراو عمسا امكػم ينَّ افاخت ال لاك

  1. 46. Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua,

Aku mendengar dan melihat.

 

[QS : 50 : 16 ]

١ ديريلا لتض نم هيلا بركا نحنو هسفن هة سيسيح ام ملػنو ناسنالا انللخ دللو

  1. 16. Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Muraqabah, atau mengawasi diri adalah maam ihsan. Barang siapa menliti dirinya dengan sifat muraqabah, niscaya akan membuahkan perasaan takut dan cemas kepada Alloh Subhaanahu wata’alaa dan perasaan malu sekiranya Dia melihat dirinya melakukan sesuatu yag di larang oleh-Nya, atau tidak melaksanakan sesuatu yang diperintahkan-Nya, atau merasa berat untuk mengerjakan suatu ketaatan dan merasa malas untuk menunaikan suatu ibadah, atau membelakangi pengkhidmatan kepada-Nya, lali dari mengingat-Nya dan berbakti kepada-Nya.

 

Tinjauan Alloh selalu mengawasi Kita3

[ QS 10 : 61 ]

1 Salim Bahreisy, Said Bahreisy , terjemah singkat Tafsir Ibnu Katsiir Jilid 8 hal 33 PT Bina Ilmu Surabaya

2 Anwar Rasyidi, 1993, Nasehat Agama dan Wasiat Iman (Habib Abdullah Al Haddad) –Tejemahan , Gema Risalah

Press Bandung, Hal : 471

3 Ahmad Yunus Al-Muhdor, Nasehat Untukmu Wahai Saudaraku (terjemah Risaalatul Muawanah – Habib Abdullah Al

Haddad), Cahaya Ilmu Publishing Hal 31,

 

نك

ذا اديىش مكيلع ا َّ

َّ

الا لمغ نم نيلمػح الوَّ نارك نم هنم ايلخح اموَّ نأش يف نيكح امو

 كل ذ  نم  ر ؾصا  ا لو  ءام سَّل ا ىف  ا لو  ض ر ا لا  ىف  ةرَّذ  لا ل رم  نم  كةرَّ  نغ  ب ز ػي  امو  هيف نيضيفح

٧ ن حتم  ب ت  ك يف  ا لا  د بكا  ا لو

 

  1. 61. Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al- Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi  ataupun  di  langit.  Tidak  ada  sesuatu  yang  lebih  kecil  dan  yang  lebih  besar  daripada  itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

[ QS : 20 : 7 ]

نا

٧ ىػخاو رَّسلا ملػي هَّف ليللاة رىجت ناو

 

  1. 7. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembuny

Berusahalah agar Alloh tidak menjumpaimu dalam larangan-Nya dan jangan sampai Alloh tidak menjumpaimu dalam perintah-Nya. Kapan saja engkau dapati dirimu malas beribadah, atau condong berbuat maksiat, maka :

–      ingatlah hatimu bahwa Alloh mendengarmu, melihatmu dan mengetahui rahasia serta isi hatimu. Jika tak mempan maka ingatlah tentang dua malaikat mulia yang mengikuti kemanapun engkau berada   serta senantiasa menulis kebaikan san keburukan yang ada padamu. Jika tak mempan,

[  QS : 50 : 17-18 ]

٣ ديتغ بحكر هيدل الا ليك نم ظفلي ام ٢ ديػك لامشلا نغو نحميلا نغ نحللخملا ىؼلخي ذا

 

(17).  (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.   (18).   Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).

–     ingatlah kematian yang paling dekat. Jika tak mempan,

–     ingatlah janji Aloh akan syurga (keberuntungan) dan neraka (kemaksiatan)

 

Menurut Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam tafsirnya:

“Dan Dia adalah beserta kamu di mana saja pun kamu berada.” Artinya ialah bahwa Dia selalu

memperhatikan kamu, menyaksikan apa yang kamu I amalkan, di mana saja kamu berada, entah di laut, entah di darat, entah pun siang entah pun malam, entah di darat, entah sedang di rumah, entah sedang berjalan seorang diri. Apa yang kita katakan didengarNya, walaupun masih bisikan hati kita, belum keluar dari ucapan; “Dan Allah dengan apa saja pun yang kamu kerjakan adalah melihat.” (ujung ayat 4).4

 

  1. 2. للا ناسضإ  (Kebaikan/Nikmat Allah)

 

Perhatikan [QS 28 (Al-Qasas): 77 ]

دل

الو  كي ل    ا لل ا نس ض ا ام ك نس ض ا و  ايندلا نم كتحصن سجح الو ةرخالا را َّا للا كىحا اميف ؼخةاو

٧٧ نيدسفملا بحي ال للا نا ضرالا ىف داسفلا ؼتح

 

  1. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Menurut Ibnu Katsiir Dalam Tafsirnya:

Dan hendaklah engkau gunakan kekayaan yang Alloh berikan kepadamu ituuntuk beribadah kepada  Tuhanmu  dan  berbuat  baik  kepada  sesama  manusia  dengan  jalan  menafkahkan sebagian dari harta kekayaanmu untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolonganmu dan  di  samping itu,  janganlah  engkau  melupakan  bagianmu  dari  kenikatan  duniawi  yang diperkenankan oleh Alloh berupa makanan, minuman, pakaian, perkawinan, dan perumahan, asalkan saja jangan sampai melampui batas. Dan janganlah engkau dengan kekayaanmu itu berbuat kerusakan dan berlaku sewenang-wenang di atas bumi Alloh ini, karena Alloh sekali-

kali tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.5

 

Tinjauan Lain

Dalam peranan kita sebagai manusia, berbagai sisi kehidupan kita harus berbuat baik tidak

hanya kepada sesama, namun kepada tumbuhan, pohon,  hewan juga dituntut untuk memiliki adab ihsan, karena hasilnya kembali kepada kita juga.

[ QS 55 : 60 ] Ar-Rahman

٦ ناسضالا الا ناسضالا ءازس لو

 

  1. Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).

Apabila kedua hal tersebut sudah terpatri yakni للا ثتكارم  (Merasa diawasi Allah ) dan ناسضإللا   (Kebaikan/Nikmat Allah), maka hasilnya akan berujung kepada manusia yang memiliki

ثيَّجلا ناسضإ ( NIAT BAIK )

 

 

  1. 3. Niat Yang Baik

Niat bukan sekedar ucapan   جيين  saya berniat. Lebih dari itu, ia adalah dorongan hati seiring dengan futuh (pembukaan) dari Alloh Azzawajalla. Kadang-kadang ia mudah di capai, tetapi

kadang-kadang juga sulit. Seserang yang hatinya dipenuhi urusan   din (agama), akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik. Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan. Sebaliknya, oran yang hatinya dipenuhi kecendruangan kepada gemerlap dunia, akan mendapatkan  kesulitan  besar  utnuk mencapainya.  Bahkan  dalam  mengerjakan  yang wajib

sekalipun/ untuk “menghadirkan” niat denganbaik, ia harus bebrsusah payah.6

نا

Hadits yang mashur tentang niat yag artinya “ Hanya sanya amal-amal tergantung kepada niat”  berarti,  baiknya  mal  yang  dikerjakan  sesuai  dengan  sunnah  itu  tergantung  kepada kebaikan niatnya. Ini seperti Sabda Beliau:

“Hanya sanya  amal-amal itu bergantung pada akhirnya.7

ميحايخلا اة لامغالاامَّ

Ketaatan bisa berubah menjadi kemaksiatan karena niat,. Begitupun perkara yang mubah bisa menjadi kemaksiatan dan bisa menjadi ketaatan karena niat. Sedangkan kemaksiatan tidak akan berubah menjadi ketaatan karena niat. Tetapi justru masuknya niat ke dalam kemaksiatan akan menambah berat  dan  dosa  dari  kemaksiatan  itu.  Pada  dasarnya  keabsahan  ketaatan  itu  sangat  terikat  kepada niatnya, begitu pula dengan pelipat gandaan pahalanya.   Sehubungan dengan keabsahan, seseorang harus meniatkan ketaatannya sebagai ibadah kepada Alloh Azza wajalla saja. Jika ia meniatkan riya‟, maka  ketaatan  yang  ia  lakukan  itu  berubah  menjadi  kemaksiatan.  Sedangkan  tentang dilipatgandakannya pahala, maka hal tersebut bergantung kepada banyaknya niat baik dari suatu ketaatan.

 

Berniat baik dan ikhlas kepada Alloh, termasuk diantara perkara besar dan penting   yang bisa menyelamatkan manusia.

[QS : 3 : 152 ] Ali-Imran

 

ام دػة نم مخحصغو رمالا ىف مخغزانتو مخلشف اذا ىتض

 

 

هنذاة مهنيسحت ذا هدعو للا مككدص دللو

دللو

مكيلختحل مىنغ مكفرص مَّذ

 ةر خ ا لا  دير ي     ن مَّ مكنمو  اي ن    د ل    ا د ير ي  نمَّ مكن م

نيتحت امَّمكىرا

١٥٢ نحنمؤملا ىلع لضف وذ للاو

مكنغ افغ

 

  1. 152. Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu suka Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang

 

6 Imtihan As-Syafi’I,2012, Tazkiyatun Nafs (Terjemahan), Pustaka Arofah Solo, Hal 17

7 HR Al Bukhariy Dalam Al-Qadar XI dari Sahabat Sahl bi Sa’d

 

yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar -benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.

 

[QS : 17:19] Al-Isro‟

٤ اريكشمَّمىيػس نغع كىلواف نمؤم يوو اىيػس اىل ىعسو ةرخالا دارا نمو

 

  1. 19. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.

 

Sabda Rosululloh

ىينام ئرما لكل امناو تايجلا اة لامغالا امنا

Sesungguhnya  setiap  amal  itu  disertai  niat,  dan  sesungguhnya  setiap  orang  itu  diberi  balasan berdasarkan niatnya.

مهت اين ىلع سانلا دػتي امنا

Setiap manusia dibangkitkan (di hari kiamat) menurut niat masing-masing

 

Niat seorang Mu’min lebih baik dari amalannya.

هلمغ نم دحخ نم ؤملا ثيَّن

Sebab, niat adalah amalan hati, sedang hati adalah anggota tubuh manusia yang paling mulia. Lantaran itu, amalan hati lebih baik ketimbang amalan anggota. Sebab lainnya adalah lantaran hanya dengan niat di dalam hati sudah bisa menghasilkan manfaat, sedang perbuatan anggota tanpa niat, tidak akan mendatangkan manfaat apa pun.

ةلمغع ثنسض هدنغ للا اىتتك اىلمػي ملو ثنسحب مَّو نم

Barang   siapa   bercita-cita   untuk   membuat   suatu   kebajikan,   tetapi   terhalang   untuk melaksanakannya, maka Alloh akan mencatatkan suatu kebajikan yang sempurna.(Al-Hadits) Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa menyimpan niat baik dalam segala amal kita, baik yang wajib maupun mubah, sehingga kita akan memperoleh karunia pahala yang penuh dari Alloh Subhaanahu Wata’ala.8

 

Kewajiban memperbaiki niat

Niat adalah asas utama dalma sebuah perbuatan dan semua amal perbuatan akan mengikutinya,

baik atau buruknya dan benar maupun tidaknya. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak mengucapakn satu atau perkataan atau melakukan satu perbuatan atau merencanakan sesuatu apapun, kecuali kita sudah berniat untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan menginginkan pahalanya yang telah di atur oleh Alloh SWT pada perkara yang diniatkan sebagi bentuk karunianya.

Niat itu bisa diartikan salah satu dari dua makna:

Pertama, niat itu ibarat tujuanmu yang mendorongmu untuk berencana, berkata dan beramal.

Niat semacam ini kebanyakannya lebih baik dari amal perbuatannya. Baginda Nabi bersabda:

Niat seorang mukmin lebih baik dari perbuatannya.

هلمغ نم دحخ نم ؤملا ثيَّن

Kedua, niat itu ibarat tujuanmu melakukan sesuatu. Niat semacam ini tidk menjadi lebih baik dari amal perbuatan tetapi dalam tekadnya untuk melakukan sesuatu seorang manusia tidak terlepas dari tiga keadaan :

  1. Seorang hamba yang berusaha kemudian mewujudkannya
  2. Seorang hamba yang tidak mewujudkannya, sedangkan ia mampu melakukannya

Artinya:

Sesungguhnya Alloh menuliskan kebajikandan kejelekan. Kemudian Beliau menerangkan hal itu: “ barang siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu ia tidak jadi melakukannya, maka Alloh akan mencatat disisi-Nya dengan suatu kebaikan yang sempurna. Dan kalau dia berniat melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Alloh mencatat disisi-Nya dengan spuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali (atau) hingga berlipat-lipat. Apabila ia niat melakukan kejelekan lalu ia tidak jadi mengerjakannya, maka Alloh akan mencatat disisi-Nya dengan suatu kebaikan yang sempurna. Dan kalau dia berniat melakukan kejelekan lalu mengerjakannya, maka Alloh mencatat disisi-Nya sebagai satu kejelekan saja.

 

  1. Seorang hamba yang berusaha melakukan sesuatu yang tidak dapat ia kerjakan hingga ia berkata, andai aku mampu melakukannya pasti aku kerjakan. Maka dengan niatnya itu, ia akan memperoleh apa yang diperoleh oleh pelakunya dan begitu juga mendapat hukuman yang sama dengan pelakunya.

Sabda Rosululloh SAW, Artinya:

Manusia terbagi menjadi empat: seseorang yang diberi Alloh ilmu dan harta lalu ia mengendalikan hartanya sesuai dengan ilmunya. Lalu ada orang lain mengatakan: “Andaikan Alloh memberiku seperti yang Alloh berikan padanya, pasti aku akan melakukan apa yang ia kerjakan. Maka keduanya sama-sama akan mendapatkan pahala.Adalagi orang seseorang yang diberi harta oleh Alloh, tetapi Alloh tidak memberinya ilmu sehingga orang itu menfkahkan hartanya dengan tidak benar karena kebodohannya. Lalu  ada orang lain mengatakan: “Andaikan Alloh memberiku seperti yang Alloh berikan padanya, pasti aku akan melakukan

seperti yang ia lakukan. Maka keduanya sama-sama akan mendapatkan dosa”.9

 

  1. Manifestasi/Perwujudan dari Niat yang baik

Sebagai catatan kriteria yang bisa diukur dan diamati dari terlaksananya suatu niat yang baik,

bisa ditelaah dari adanya 3 hal:

1)   Niat Ikhlash        ثيَّجلا صالخإ

 

QS (Al-Bayyinah) 98 : 5

َّص                                                                                               َّ

ةيكزلا ايحؤيو ةيل َّلا ايميليو ءافنض ە  ني د ل    ا ه ل        نحص ل خ      م لل ا ا و دتػ يل  ا لا  ا و ر ما امو

٥ ثميللا نيد كلذو

 

  1. 5. Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan)

agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

 

Tafsir Al-Azhar

“Padahal tidaklah mereka itu diperintah, melainkan supaya mereka menyembah kepada Allah.” (pangkal ayat 5). Kepada Allah sahaja, tidak dipersekutukan yang lain dengan Allah; ?engon mengikhlaskan  agama  karena-  Nya.”  Segala  amal  dan  ibadat,  pendeknya  segala  apa  jua  pun perbuatan yang bersangkutan dengan agama, yang dikerjakan dengan kesadaran, hendaklah ikhlas karena Allah belaka, bersih daripada pengaruh yang lain; “Dengan menjauhkan diri dari kesesatan.” Itulah yang dinamai agama haniJ jama’nya hunafaa-a. Yaitu condong kepada kebenaran, laksana jarum kompas (pedoman), ke mana pun dia diputarkan, namun jarumnya selalu condong ke Utara. Demikianlah  hendaknya  hidup  manusia,  condong  kepada  yang  benar,  tidak  dapat  dipalingkan kepada yang salah; “Dan supaya mendirikan sembahyang,” yaitu

dengan  gerak-gerik  tubuh  yang  tertentu,  dengan  berdiri  dan  ruku’ dan  sujud  mengingat  Allah, membuktikan ketundukan kepada Allah; ‘Dan mengeluarkan zakat,” yaitu mengeluarkan sebahagian dari hartabenda buat membantu hidup fakir miskin, atau untuk menegakkan jalan Allah di dalam

masyarakat  yang luas, sehingga dengan  sembahyang  terbuktilah hubungan  yang  kokoh dengan

Allah dan dengan zakat terbuktilah hubungan yang kokoh dengan sesama manusia.

“Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (ujung ayat 5)’ Tidaklah mereka itu dijatuhi perintah melainkan dengan segala yang telah diuraikan itu; menyembah Allah, ikhlas beribadat, condong

kepada berbuat baik, sembahyang dan berzakat. Itulah dia inti agama. Itulah yang dibawa oleh Nabi- nabi  sejak  syariat  diturunkan  di  zaman  Nabi  Nuh,  sampai  kepada  Nabi  yang  sekarang  ini, Muhammad s.a.w. Maka kalau hendak dihimpunkan sekalian perintah agama yang dibawa Nabi- nabi, inilah dia himpunan perintah itu. Kontak dengan Allah, mengakui Keesaan Allah, beribadat kepadaNya sahaja, tidak kepada yang lain, sembahyang dan berzakat. Maka kalau mereka itu tidak menurutkan kehendak hawa nafsu, patutlah mereka menerima menyambutnya. Karena isi ajaran tidaklah merobah isi kitab yang mereka pegang, melainkan melengkapinya.

Syaikh Muhammad Abduh di dalam tafsir Juzu’ ‘Ammanya memberi peringatan, bahwa meskipun

ayat ini turun mengkisahkan sikap ahlul-kitab, namun penyakit semacam ini telah banyak bertemu dalam kalangan kaum Muslimin. Meskipun Firman Ilahi dan Sabda Rasulullah s.a.w. telah terang benderang dan jelas isinya, masih pula terdapat perpecahan di kalangan kaum Muslimin, ta’ashshub mempertahankan golongan masing-masing,  sehingga di antara Muslimin  sesama  Muslimin pun terjadi   perpecahan.   Beliau   berkata:   “Bagaimana   pendapatmu   tentang   keadaan   kita   (kaum Muslimin)? Bukankah hal ini telah diingatkan oleh Kitab suci kita sendiri, yang telah membuktikan buruknya amal-amal kita, sehingga kita pecah-berpecah dalam hal agama, sampai bergolong-golong, sampai amalan kita penuh dengan perbuatan baru yang diada-adakan dan perbuatan bid’ah?10

 

[QS (az-Zumar ) 39:3]

للا نا ىػلز للا ىلا انيةرليل الا مودتػن ام ءايلوا هنود نم اوذختا نيذلاو صل اخ لا ن يد ل    ا  لل  ا لا

٣ رافك بذك يو نم يدىي ال للا نا ە نيفلخخي هيف مو ام يف مىنحة مكحي

 

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.

Tasir Al-Azhar11

 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, sesungguhn ya mereka akan Kami beri petinjuk jalan- jalan Kami.” (pangkal ayat 69)’ Artinya ialah bahwa Allah memberikan jaminan kepada barangsiapa saja yang telah menyediakan dirinya menempuh jalan Allah. Mereka tidak berfikir bersimpang-siur lagi.   Tujuan   mereka   hanya   satu:   Allah   Segala   sesuatu   yang   rasa   akan   merintang   telah

ditinggalkannya dan fikirannya telah bulat! oleh karena keyakinan yang telah bulaiitu mereka pun

 

10 Hamka, Tafsir Al-azhar – terjemahan, Jilid 10 Pustaka Nasional PTE LTD Singapura    Hal 8076

11 Hamka, Tafsir Al-azhar – terjemahan, Jilid 7 Pustaka Nasional PTE LTD Singapura  Hal 5474

 

mulai melangkahkan kaki. Mereka pun mulai berjuang, bersungguh-sungguh. Bukit betapa pun tinggi,  mereka  daki’ Lurah  betapa pun  curam, mereka  turuni.  Laut berapa pun dalam, mereka renangi’ seluruh, tenaga, seluruh fikiran, seluruh akal budi, mereka tumpahkan untuk mencari keridhaan Allah. Mereka tahu bahwa jalan ini tidak mudah’ Mereka tahu halangannya banyak, rintangannya bukan sedikit. Tetapi mereka pun tahu bahwa waktu, untuk hiiup ini hanya sedikit. Kalau mereka lalai, waktu itu akan habis dan mana yang telah habis tidak dapat dikembalikan lagi. Sebab itu mereka kerja keras, -rnereka bersungguh-sungguh. Kadang-kadang banyak bahaya yang mereka jumpai di tengah jalan,namun mereka jalan terus.ltulah   yang bernama berjihad!. Mereka ingin mengisi hidup di dunia itu jangan sampai kosong!.   Dengan modal ketulusan hati itulah mereka mulai melangkah maju ke muka. Kepada mereka Tuhan berjanji:..Sesungguhnya mereka akan Kami beri petunjuk jalan-jalan Kami.”   Karena jiwanya yang telah terbuka itu, meskipun tadinya jalan itu belum diketahuinya, jiwanya yaig telah terbuka, yang tulus dan ikhlas, yang bertauhid  dan  berma,rifat,  yang  hulnuzh-zhonn  (berbaik  sangka)  kepada  Allah,  maka  Allah sendirilah yang menunjukkan jalan-jalan itu. Tangan Allah sendiri yang akan menuntunnya.

Kemudian itu diujung ayat diperingatkan lagi olehTuhan Supaya petunjuk jalan itu senantiasa diberikan. “Dan sesungguhnya Allah benar-benarlah bersama orang-orang yang selalu berbuat baik'” (ujung  ayat  69)’  Hendaklah  kita  perhatikan  pertalian  suku  ayat  pertama  dengan  suku  ayat kedua.Yang pertama haruslah diingat bahwa amal usaha yang kita hadapi itu hendaklah benar-benar dikerjakan  ikhlas  karena  Allah.  Kalau  amal  tidak  ikhlas  karena  Allah,  semangat  BERJIHAD tidaklah akan tumbuh. Keikhlasan hati yang diiringi dengan” jihad, yaitu dengan kerja keras’ bersemangat’ tidak mengenal bosan, bahkan  kalau perlu berkurban, entah kurban harta, sampai kesediaan mengurbankan jiwa sekalipun, pastilah akan membukakan pintu. petunjuk dari Allah.

Di suku kedua diperintahkan pula bahwa selalu Allah adalah menyertai orang-orang yang muhsin. yaitu orang yang selalu menjaga agar mutu amalannya seraru baik dan diperbaiki lagi,-dipertingi mutunya, dibuat lebih sempurna.

Fudhail bin ‘lyadh, mempertalikan di antara ikhlas dengan lhsan. Ikhlas ialah memperbaiki niat sejak semula, agar beramal benar-benar karena Alloh dan bersedia berjihad untuk itu. Ihsan ialah ah membuat u,amalan itu lebih baik, yaitu lebih tepat menurut sunnah yang digariskan oleh nabi SAW. Bagaimanapun ikhlasnya suatu niat, kalau tidak diperjuangkan atau dibuat jadi Jihad, percumalah ikhlas itu. Bagaimanapun ikhlas dan jihas, kalau tidak. diatur yang sesuai dengan Sunnah Nabi, percuma jugalah pekeryaan atau amalan yang kita kerjakan itu. Kalau ketiganya terah berkumpul dalam gerak hidup seorang yang beriman, jalan yang tadinya gelap, pastilah akan di beri terang oleh Alloh SWT.

Rosululloh bersabda:

 

ليلللا لمػلا كزجي كنيد صلخا

 

Ikhlaskanlah agamamu itu, niscaya memadailah amalan yang sedikit

هطساو هة يغخةاو هل اصلاخ اىنم نغعام الا لامغالا نم للا لتلي ال

 

Alloh tidak akan menerima sesuatu amalan, melainkan yang dikerjakannya dengan penuh keikhlasan kepadaNya, dan ditujukan untuk memperoleh keridhoan-Nya semata.

Makna Ikhlas ialah, menyengajakan semua amal ibadah, ketaatan dan perbuatan semata- mata kepada Alloh SWT, untuk mendekatkan diri dan memperoleh keridhoannNya.Bukan untuk tujuan-tujuan yang lain seperti, berpura-pura mengerjakan ketaatan, menampilkan diri di hadapan orang banyak, mengharap pujian orang, atau tamak untuk mendapatkan suatu pemberian.

 

Sahil bin Abdullah ats-tsauri mengatakan bahwa, para ulama bijaksana telah menliti surah al-ikhlas, sedang mereka tidak menemukan makna yang lebih tegas dan pantas beriku ini:, yakni:  mengarahkan  segala  gerak-gerik  dan  diamnya,  baik  lahir  maupun  batin,  hanya kepada Alloh semata, tidak dicampuri oleh sesuatu apapun, baik jiwa, hawa nafsu maupun dunia. Orang yang ikhlas adalah orang yang menyengajakan amalannya hanya untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT, mencari keridhoan-Nya dan memperoleh balasan

pahala-Nya.12

 

2)   Kerja Profesional لمػلا نالحإ

 

QS (At-Taubah) 9 :105

 

 

شل

ةداى َّ                                                         او بحؾلا  ملع ىلا  نوددتسو  نينمؤملاو  هليسرو  مكلمغ  للا  ىدحسف  ايلمغا  لكو

 

 

١٠٥ نيلمػح مخجك امة مكئتنحف

 

  1. 105. Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul -Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan -Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

 

Tentang   ayat  ini,  Mujahid  berkata,  bahwa   ini  adalah   suatu  ancaman  dari  alloh  SWT,  kepada  orang  yang melanggarperintah dan Syariatnya, bahwasanya maal-amal mereka akan dilaporkan kepadaNya di hari kiamat, kepada Rosul-Nya dan kepada para Mukminin. Peristiwa ini pasti akan terjadi, sebagaimana firman Alloh SWT :

[QS: Al-Haqqah, 69 : 18]

 

٣ ثيفاخ مكنم ىػخت ال نيضرػح ذىميي

 

  1. 18. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah).

13

 

Hadits Rosul Tentang itqan

َّ

 

)ينادبطلا هاور(

 هن ل خي نأ المغ مكدحأ لمغ اذإ بحي للا نإ :ملسو هيلع للا ىلص للا ليسر لاك

 

 

Rasul saw bersabda:sesungguhnya Allah suka jika salah seorang diantara kalian mengerjakan sesuatu, mengerjakan dengan telaten (HR Attobroni)

 

َّ

،ءيش لع ىلع ناسضإلا بتك للا نإ :م

و هيلع للا ىَّلص للا ليسر نغ ،هنغ للا يضر سوأ نة دا َّ

ىلػي يبأ نغ

 

لس

 

دط

) ملسم هاور( هخطيةذ حدحلو هحرفش مكدحأ  َّ

دش

 

يلو ،ثحبذلا نسضأف مخحبذ اذإو ةلخللا نسضأف مخلخك اذإف

 

 

 

Dari abu Ya‟la Syaddad Bin Aus RA, dari Rasulullah saw, sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal,jika membunuh membunuhlah dengan baik, jika menyembelih, menyembelih dengan baik, hendak kalian menajamkan pisaunya dan membuat rehat sesembelihannya ( HR Muslim)

 

Dibalik Nama itqan14

 

ََّّ

َََّّّ

 

هنلخي نأ المغ مكدحأ لمغ اذإ بحي لجو زَّغ   َّ

َّ

لاك ملسو هيلع للا ىلص للا ليسر نأ ،ثشئاع نغ

 

 

Artinya;

للا نإ

 

 

 

 

12 Anwar Rasyidi, 1993, Nasehat Agama dan Wasiat Iman (Habib Abdullah Al Haddad) –Tejemahan , Gema Risalah

Press Bandung, Hal : 468

13 Salim Bahreisy, Said Bahreisy , terjemah singkat Tafsir Ibnu Katsiir Jilid 4 hal 142 PT Bina Ilmu Surabaya

14 http://itqan.sch.id/berita/detail/51/dibalik-nama-itqan.html

 

“Dari Aisyah  اىنغ  للا  يضر, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : “Allah ʽazza wa jalla

menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At–Tabrânî, dalam al-Muʽjam al-Awsat, No. 897, dan Imam Baihaqi dalam Sya‟bu al-Îmân, No. 5312. Dan termasuk pada hadist Mashur yang banyak dikenal masyarakat luas, meski hadits ini tidak terdapat dalam kutubuttisʽah,

 

 

Kembali pada kata Al Itqan dalam hadits tersebut, bahwa; kata   “نالحإلا”  adalah mashdar

 

 

لح

kata,  yang asalnya dari kata   ن َّ

dengan wazan

الاػفا لػفي ـ لػفأ, yaitu   نلحأ–  انالحا ـ نلخي,

 

 

yang bermakna menyempurnakan, atau mengerjakan dengan sempurna.

 

Kata  ini  disebutkan  Allah  Subhanahu  Wata’ala  dalam  Al  Qur‟an yang  mencontohkan

َّ

kesempurnaan penciptaan alam, yaitu sebagai berikut: [QS : 27:88]

امة دحتخ هَّ  ءيش    َّ                                                                                                                                                                                                                                                                                                نلحا  يذ ل    ا لل ا ع ن ص باطسَّلا رَّم رمح يهوَّ ةدماج اىتسحت لاتجلا ىرحو

نا        لع

 

 

٨٨ نيلػفح

 

  1. 88. Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

 

Jadi  itqan  bermakna     melakukan  amal  secara  efektif  dan  efisien,  sehingga  dapat terselesaikan secara optimal, dari segi proses dan waktu.

Dari kata Itqan itulah kita bisa mengambil beberapa pelajaran;

  1. Dikerjakan dengan memperhitungkan  kemungkinan-kemungkinan  yang  akan  terjadi, seperti ada dalam hadits berikut:

 

 

 

لتك كحايضو ،كلؾش لتك كؽارفو ،كرلف لتك كءانؽو ،كملس لتك كخ  َّ

سمخ لتك اسمخ منتؽا

 

و ،كمرو لتك كةاتش

 

طص

 

كحيم

 

Artinya;

“Manfaatkan lima hal sebelum lima hal (lain): waktu mudamu sebelum uzurmu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, dan luangmu sebelum sibukmu.”  (HR Al – Hakim, disahihkan Adz-Dzahabi, sesuai syarat Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu muda, sehat, kaya dan waktu, adalah modal utama dalam mencapai sesuatu, untuk itu perlu disiapkan, di perhitungkan, dijaga dan dikelola dengan perencanaan yang baik, sehingga bisa berhasil pada akhirnya.

 

  1. Dikerjakan dengan Tuntas tidak berleha-leha dalam beramal. Sebagaimana firman Alloh

Subhaanahu Wata’ala dalam Al Qur‟an [ QS : 94:7]

 

٧ بصناف جؽرف اذاف

 

  1. 7. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),

 

Imam Sayyid Quthb dalam  Fii Zhilalil Quran berpendapat ini terkait urusan dunia, agar setelah selesai bekerja, ia bersungguh-sungguh dalam beribadah.

 

Imam Ath-Thabari berpendapat bahwa kesungguhan dalam menyelesaikan suatu urusan, baru kemudian pindah ke urusan lain, yang mana urusan tersebut tidak ditentukan. Yang penting adalah urusan tersebut adalah urusan yang diperintahkan Allah Subhaanhu Wata‟ala.

 

Imam Ath-Thabari menyebutkan beberapa pendapat mufassir tentang ayat ini, di antaranya adalah bahwa yang dimaksud adalah jihad, jika sudah selesai, maka kembali fokus beribadah dan berdoa. Pendapat lain menyebutkan ini terkait urusan dunia, agar setelah selesai, bersungguh-sungguh dalam beribadah. Hal ini juga dikatakan Imam Sayyid Quthb dalam Fii Zhilalil Quran.

 

Imam Ath-Thabari berpendapat bahwa yang tepat adalah kesungguhan dalam menyelesaikan suatu urusan, baru kemudian pindah ke urusan lain, yang mana urusan tersebut tidak ditentukan. Yang penting adalah urusan tersebut adalah urusan yang diperintahkan Allah ىلاعت.

 

Menurut Mu’jam al-Wasit, kata yang terkandung dalam ayat,  اـؽارف ـ غرفي ـ غرف ” berarti  الخ

 

yakni kosong, dan jika dikatakan “ءيشلا نم غرف” = همَّحأ, yakni menyempurnakannya.

 

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Islam memerintahkan kita untuk melakukan amal sampai benar-benar tuntas, sampai benar-benar „kosong‟ dari sesuatu yang perlu dilakukan sebelum ia bisa disebut amal yang tuntas.15

 

 

  1. Fokus Selain ayat di atas, terdapat juga firman Allah ىلاػح lainnya yang berisi arahan untuk tidak tergesa-gesa untuk pindah ke hal lainnya:

١١٤ املع يندز برَّلكو هيضو كيلا ىضلي نا لتك نم نارللاة لشػح الو قحلا كلملا للا ىلػخف

 

  1. 114. Maka Mahatinggi  Allah, Raja  yang  sebenar-benarnya. Dan  janganlah  engkau  (Muhammad)  tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ”

 

Imam Ath-Thabari menafsirkan ayat ini sebagai larangan atas Rasulullah Saw untuk tergesa-gesa  menyampaikan  Al-Quran  kepada  para  sahabat     مىنغ   للا   يضر   sebelum

sempurna  dijelaskan.  Ayat  ini  ditutup  dengan  doa  penambahan  ilmu,  menunjukkan

pentingnya fokus dalam belajar hingga tercapai kepahaman dan standar-standar yang ditetapkan, sebelum kemudian mengajarkannya hal yang lain.

Seringkali terjadi dalam kehidupan manusia, semangat sudah menjadi lemah sebelum amal tersebut selesai, sehingga mengabaikan penyempurnaan amal penutupnya.

Ini digambarkan dalam hadits:

 

Dari Salim mantan budak Syaddad, dia berkata, “Saya mendatangi Aisyah, isteri Nabi Saw pada hari wafatnya Sa’d bin Abu Waqqash. Kemudian Abdurrahman bin Abu Bakar masuk dan berwudlu di sisinya, maka Aisyah berkata, „Wahai Abdurrahman, sempurnakan wudlumu, karena aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Celakalah tumit-tumit (yang tak terbasuh air wudlu) dengan api neraka.” (HR. Muslim).

َّ

Rasulullah  Saw  mengajarkan  nilai  pentingnya     ةدحخألا  ثسمللا  عضو,   sentuhan  akhir

 

penyelesaian sebuah amal, karena seringkali orang berwudu, pada bagian akhirnya sudah

 

15 https://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2015/07/30/74773/ihsan-dan-itqan-dalam-beramal.html

 

tak sabar lagi untuk berpindah pada bagian yang lain. Terburu-buru sehingga lalai dalam menyempurnakan pembasuhan tumit sebagaimana mestinya. Hadits ini juga menye ntuh sifat kebanyakan orang, yang tergesa-gesa meninggalkan amal sebelum selesai.

 

 

3)   Penyelesaian baik  ءادألا ةديس

 

QS (Al-Ankabut) 29:69

َّ

 

 

٦٩ نحنسطملا عمل للا

و انلتس مى َّ                                        دىنل انحف اودواج نيذلاو

 

َّ

نا            ني

 

  1. 69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan -jalan

Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.

 

[QS An-nahl ; 16 :128]

ََّّ

 

١٢٨ ۔نينسحم مو نيذلاوَّ ايل َّ                                                                                                      نيذلا عم للا  َّ

حا                   نا

 

  1. 128. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

 

Finishing touch adalah hal yang sangat penting dalam sebuah amal. Misalkan dalam membangun sebuah bangunan atau rumah, meski dibangun dengan bahan-bahan bangunan yang mahal kelas super, desain arsitektur yang sangat bagus, tapi kalau pengecatannya tidak tuntas atau asal-asalan, tidak rapi, dan penempatan warna tidak sesuai maka rumah tersebut tak dapat dinikmati sebagai rumah yang nyaman untuk di tempati. Begitu pun dengan suatu amalan yang setiap hari kita lakukan.

 

 

 

Setelah di awali dengan niat yang baik, yang diwujudkan melalui Niat yang ikhlas, kerja yang profesional serta penyelesaian yang baik, maka tentu capaian hasil pasti berupa Amal yang Baik.

 

 

  1. 5. Amal Yang Baik (

 

QS 67 (Al-Mulk): 2

لمػلا ناسضا   )

 

 

 

َّ

 

٢ ريفؾلا ز

ػلا يوو المغ نسضا مكيا مكيلتحل ةييحلاو تيملا قلخ يذلا

 

 

  1. 2. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia

Mahaperkasa, Maha Pengampun.

 

 

 

  1. Buah dari Amal Yang baik

 

Sebagai hasil yang diharapkan dari suatu yang dikerjakan sesuai ketentuan syari‟at, maka akan

diperoleh suatu keutamaan antara lain:

1)  Cinta Allah للا ثتَّحم

 

َّ
خل

١٩٥ نحنسطملا بحي للا نا ۛاينسضاو ۛثكلى َّ                                  ا ىلا مكيدياة ايللح الو للا ليبس يف ايلفناو

 

  1. 195. Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaikla Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

 

[QS al-Baqaroh; 2:165 ]

 

 

َّ
خي

 ا تض   دش ا ا ي ن ما ن ي  ذ ل    ا و   لل ا ب طك  مهني تح ي  ادادنا للا نود نم ذخ ََّّ

 

 

 

نل

نم سا َّا نمو

 

َََّّّ

باذػلا ديدش للا ناوَّ اػيمَ لل ةيَّللا نا باذػلا نوري ذا ايملَ نيذلا ىري يلو لل

 

 

١٦٥

 

  1. 165. Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang -orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).

 

Mahabbah (kecintaan) kepada Alloh adalah tujuan akhir dan derajat tertinggi. Setelah menggapai mahabbah, sungguh, tidak ada lagi tingkatan selain buah dari mahabbah itu sendiri, sepeti syauq (kerinduan), uns ( kenyamanan), dan ridha. Pun tidak ada tingkatan sebelum mahabbah selain pendahuluan menuju kepadanya, seperti taubat, sabar, zuhud dan sebagainya. Alloh Azza wajalla dicintai buka karena sesuatu yang lain. Alloh azza wajalla dicintai dari berbagia sisi, segala sesuatu selainNya dicintai dalam rangka cinta kepadaNya. Keharusan mencintaiNya telah ditunjukkan oleh seluruh kitab yang diturunkan dan Rosul

yang diutus, juga oleh fitrah, akal manusia, dan nikmat yang Dia anugerahkan.16

 

[QS : An-Nahl; 16: 53]

 

٦ نورـجت هيلاف رظلا مكسَّم اذا مَّذ للا نمف ثمػن نم مكة امو

 

 

  1. 53. Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.

 

[QS Al-Maidah; 5 : 54]

ََّّ

دح

ىلع ةلذا هنيتحيو مىتحي ميلة للا ىتأي فيسف هنيد نغ مكنم  َّ                                                   ريَّ نم اينما نيذلا اىياي

 

لضف كلذ مىال ثميل نيفاخي الو للا ليبس يف نودواجي نيرفكلا ىلع ةزَّغا نحنمؤملا

 

َّ

٧ ميلع عساو للاو ءاشي نم هيحؤي للا

 

  1. 54. Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai -Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mence Itulah karunia Allah yang diberikan -Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.

 

Makna mahabbah (cinta kepada Alloh) ialah, kecenderungan hati sesorang hamba kepada- Nya, perasaan adanya hubungan yang erat dengan-Nya, bertuhan hanya kepada-Nya sebagai hadirat yang Maha Suci dan Maha Tinggi dan puncak kemahaagungan, kemahasucian, dengan  penuh  hormat  dan takut kepada-Nya,  tanpa  menyerupakan-Nya  dengan  sesuatu

 

 

 

 

 

 

16 Imtihan As-Syafi’I,2012, Tazkiyatun Nafs (Terjemahan), Pustaka Arofah Solo, Hal 127

 

yang lain, tidak menyertai peribadatan kepada-Nya dengan keraguan apa pun. Maha suci alloh dari segala penyerupaan dan keraguan.17

 

 

2)  Pahala dari Allah ( للا نم رسأ )

 

QS (Al-Ahzab) 33 :29)

٢٩ اميظغ ارسا نَّكنم ججسطملل  َّ                                                                                                                       ا للا  َّ                                                                                ف  ةرخالا را َّاو هليسرو للا ندرح  َّ                                                                    نك ناو

دع        نا            دل                             نت

 

  1. 29. Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.

 

 

 

Tafsir Ibnu Katsiir (jilid 6 hal 302)

 

Istri  nabi  diberikan  pilihan,  untuk  hidup  bersama  Rosululloh  dalam  keadaan  penuh kesabaran atau menyukai dunia. Semua ummul mukminin memilih bersama Nabi ketika ditanya.

Diriwayatkan oleh Ikrimah, bahwa tatkala ayat 28-29 ini turun, Rosululloh SAW beristrikan

9 orang; lima dari suku Quraisy yaitu Aisyah, Hafshah, Ummu Habibah, Saudah, Ummu

Salamah dan Shafiyah dari suku Bani-nadhir, Maimunah dari suku Hilal, Zainab dari suku

Asad, dan Juwairiyah dari suku Bani Musthaliq

 

 

3)  Pertolongan Allah ( للا نم رطن )

 

QS (An-Nahl) 16 :128)

 

 

ََّّ

 

١٢٨ ۔نينسحم مو نيذلاوَّ ايل َّ                                                                                                      نيذلا عم للا  َّ

حا                   نا

 

  1. 128. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

 

 

kata عم dimaknai dengan رطنلا (pertolongan)

 

 

Tafsir Ibnu Katsiir (jilid 4 hal 658)

 

Sesungguhnya Alloh mnyertai orang-orang yang bertakwa dan beramal baik. Penyertaan yng dimaksud dalam ayat ini, adalah:

Pertama,

pernyataan khusus sebagaimana  QS:Al-Anfal 8:12

ََّّ

اورفك نيذلا بيلك يف يؼلاس  ا ي ن ما ن يذ ل    ا ا ي ختث ف     مكػ م  ين ا ثكىل م ل  ا ىل ا  كةر  يحي ي  ذا

َّ

١٢ نانب لع مىنم ايةرضاو قانغالا قيف ايةرضاف بغرلا

 

  1. 12. (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang – orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.

 

Dan firman-Nya kepada Musa dan Harun

 

 

17 Anwar Rasyidi, 1993, Nasehat Agama dan Wasiat Iman (Habib Abdullah Al Haddad) –Tejemahan , Gema Risalah

Press Bandung, Hal : 463

 

QS:Thaha 20:46

 

نا

٤٦ ىراو عمسا امكػم ينَّ افاخت ال لاك

 

 

  1. 46. Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.

 

Dan Sabda Rosululloh kepada Abu Bakar tatkala keduanya berada di dalam gua Tsur

QS Attaubah : 9:40

ََّّ

ليلي ذا راؾلا ىف امو ذا نحنذا يناذ اورفك نيذلا هسرخا ذا للا هرطن دلف هورطنح الا

ََّّ

لػسو اوورح مل دينجب هديَّاو هيلع هخنحكس للا لزناف  ان ػم  لل ا نا نز ح      ت  ا ل  هتضاصل

َّ

 

٤٠ ميكح ز

غ للاو ايلػلا يه للا ثملعو ىلفسلا اورفك نيذلا ثملع

 

 

  1. 40. Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang -orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua , ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia  menjadikan  seruan  orang-orang  kafir  itu  rendah. Dan  firman  Allah  itulah yang  tingg Allah  Mahaperkasa, Mahabijaksana.

 

Kedua,

Adapaun pernyataan umum, maka berarti Alloh mendengar, melihat dan mengetahui, sebagaimana firmanNya:

 

QS : Al-Hadid 57:4

خس

ىف زلي ام ملػي شرػلا ىلع ىيخسا مَّذ مايَّا ث َّ

َّ

يف ضرالاو تيمسَّلا قلخ يذلا يو

 

 

 مخ ج ك ا م  ن يا  مكػ م  ي و و   اىيف جرػي امو ءامسَّلا نم لذجي امو اىنم جرخي امو ضرالا

 

 

٤  د حص ة   ني ل م ػح  ام ة  لل  ا و

 

  1. 4. Dialah  yang  menciptakan  langit  dan  bumi  dalam  enam  masa;  kemudian  Dia  bersemayam  di  atas  „Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

 

[QS Al Mujaadalah : 7]

ََّّ

 

نا

الو مىػةار يو الا ثرلذ ىيجن نم نيكي ام ضرالا ىف امو تيمسَّلا ىف ام ملػي للا  َّ

رح ملا

 

ايلمغ امة مىئتجي مَّذ اينغع ام نيا مىػم يو ا َّ                                                                          دثكا الو كلذ نم ىندا الو مىسداس يو ا َّ                                                                          ثسمخ

لا                                                       لا

 

َّ

٧ ميلع ءيش لكة للا نا ثميللا ميي

 

  1. 7. Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

 

 

 

مالغأ ىلاػح للاو

 

Abiolanarofuw

 

Demikianlah jabaran sederhana yang bisa kami berikan, semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri kami dan ummat islam secara umum (22 Desember 2020 M / 07 Jumadil Awwal 1442 H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *